TAJUK1.ID – Banjir kembali merendam permukiman warga di Desa Teratai, Sabtu (sekitar pukul 17.30 WITA), menambah daftar panjang bencana berulang yang dialami masyarakat setempat.
Air bah datang deras dari arah hulu usai hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak sore hari.
Luapan air dengan cepat memasuki rumah-rumah warga di sekitar perempatan SMK Desa Teratai, kawasan yang selama ini dikenal sebagai titik rawan genangan.
Sejumlah ruas jalan desa ikut terendam, membuat mobilitas warga lumpuh dan aktivitas sehari-hari terhenti.
Warga tampak bergegas menyelamatkan barang-barang rumah tangga ke tempat yang lebih tinggi.
Sebagian memilih bertahan di dalam rumah sembari menunggu air surut, sementara lainnya membatasi aktivitas karena akses jalan tidak dapat dilalui.
Namun bagi warga, banjir ini bukan semata akibat hujan. Mereka menilai kerusakan lingkungan di wilayah hulu, yang diduga kuat dipicu aktivitas pertambangan emas tanpa izin, menjadi faktor utama yang mempercepat dan memperparah banjir setiap kali hujan turun.
“Setiap hujan pasti banjir. Bukan baru sekarang. Tanah di atas itu sudah rusak parah karena tambang, jadi air langsung turun semua ke sini,” ujar Mita (33), warga Desa Teratai, Sabtu sore.
Menurut warga, aktivitas tambang ilegal telah merusak struktur tanah dan kawasan resapan air. Akibatnya, aliran air tidak lagi tertahan secara alami dan langsung mengalir deras ke wilayah permukiman di bagian hilir.
“Dorang so rusak gunung, so rusak tanah. Akhirnya torang di bawah yang terima dampaknya,” tegas Mita.
Sementara itu, Kepala Desa Teratai, Simson Hasan, menyampaikan bahwa pemerintah desa masih melakukan pendataan terhadap jumlah warga terdampak.
Ia mengatakan koordinasi dengan pihak terkait terus dilakukan untuk penanganan awal, sembari menunggu air benar-benar surut.
Banjir yang terus berulang ini kembali menegaskan bahwa persoalan lingkungan akibat tambang emas ilegal bukan sekadar isu di wilayah hulu, melainkan telah berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan dan kehidupan warga di hilir.












