TAJUK1.ID – Masyarakat nelayan Desa Torosiaje Kabupaten Pohuwato bereaksi keras terhadap hasil riset yang dirilis Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang dalam pemberitaan menyebut 100 persen ikan konsumsi tercemar mikroplastik
Riset tersebut dinilai lahir tanpa etika konfirmasi, sebab tidak pernah disampaikan atau diverifikasi kepada pemerintah desa maupun masyarakat setempat sebelum dipublikasikan ke ruang publik.
Sigit Buludawa, advokat dan putra asli Torosiaje, menyebut klaim itu bukan sekadar angka statistik, melainkan vonis sosial yang berdampak langsung pada hidup nelayan.
“Jika benar 100 persen ikan tercemar, maka yang sakit bukan hanya Torosiaje. Seluruh masyarakat Gorontalo yang mengonsumsi ikan dari sini ikut terpapar. Bahkan ikan tangkapan Torosiaje dipasarkan hingga Manado dan Palu, Sulawesi Tengah,” kata Sigit, Selasa (20/1/26)
Menurutnya, publikasi riset tanpa konfirmasi adalah ironi akademik—ilmu pengetahuan dipamerkan, tetapi manusia yang terdampak diabaikan.
“Sains semestinya menerangi, bukan menggelapkan. Ketika riset diumumkan tanpa dialog, yang terjadi adalah stigma. Nelayan diposisikan sebagai sumber masalah, bukan korban dari persoalan lingkungan yang lebih luas,” ujarnya.
Sigit menilai klaim “100 persen” itu perlu diuji ulang secara terbuka dan partisipatif. Tanpa transparansi metodologi, lokasi pengambilan sampel, serta keterlibatan masyarakat, angka absolut berubah menjadi palu godam yang memukul mata pencaharian nelayan.
“Ini bukan sekadar soal kesehatan, ini soal keadilan. Reputasi ikan Torosiaje dihantam, harga jatuh, kepercayaan pasar runtuh,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa jika mikroplastik benar ditemukan, maka tanggung jawab tidak boleh berhenti pada nelayan.
“Pertanyaan filosofisnya sederhana: dari mana plastik itu datang? Apakah nelayan yang memproduksi plastik, atau sistem pengelolaan lingkungan yang gagal?” ujarnya, bernada sarkas.
Masyarakat Torosiaje meminta UNG bertanggung jawab secara akademik dan sosial melakukan klarifikasi, membuka data, serta berdialog langsung dengan desa. Tanpa itu, riset yang seharusnya menjadi mercusuar pengetahuan justru berubah menjadi kabut yang menyesatkan.












